Vaginoplasty Budaya Populer Wanita
Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan dosen
Apakah Vaginoplasty merupakan budaya baru???
Vaginoplasty
Kemajuan teknologi di dunia kedokteran tidak diragukan lagi, penemuan-penemuan yang terdahulu makin dikembangkan secara kreatif, produktif dan inovatif sambil membidik peluang-peluang baru penanganan rekonstruksi medis sekaligus merambah ke aspek lain yang bersentuhan dengan masyarakat luas berikut dengan dibubuhi sentuhan-sentuhan seni juga komersialisasi.
Dari waktu ke waktu bermunculan berbagai produk teknologi yang siap diterjunkan ke pasar bebas, menciptakan permintaan baru dengan memanfaatkan perkawinan sains, teknologi dan seni juga perpaduan dengan teknologi lainnya, yakni telekomunikasi. Produk-produk ditawarkan secara luas tidak mengenal usia, tidak mengenal asal usul, dan yang menarik tanpa suatu kontrak atau perjanjian khusus maka bisa saling dipertemukan dengan niatan yang serupa dan bisa saling memuaskan. Salah satu produk teknologi itu adalah vaginoplasty.
Serumpun dengan beberapa layanan kewanitaan yang populer di dunia, yaitu breast enlargement dan liposuction yang sudah lebih dahulu populer dan yang belakangan ini berkembang yaitu abdominoplasty, labiaplasty, un-hooding of the clitoris dan vaginoplasty. Kata plastik berasal dari kata Plastique, plasticos, plasty yang artinya perbaikan. Bedah plastik adalah cabang dari ilmu bedah yang lebih memperhatikan hasil akhir dari suatu tindakan. Figur seorang bedah plastik , selain ilmu kedokteran dan ilmu bedah dilengkapi dengan kemampuan imajinasi (goniometri, stereometri), ketrampilan tangan (skills) dan jiwa seni (art).
Pada dasarnya beberapa pembedahan diatas tadi bertujuan untuk mengembalikan bahkan membuat lebih baik kondisi vagina pasca melahirkan atau istilah Yefta – lebih manusiawi. Tujuannya adalah memperbaiki kondisi yang kurang harmonik, agar kembali mengencang dan nampak lebih indah seperti sebelum melahirkan. Sebelum dilakukan pembedahan tentu ada masa persiapan dan perawatan pasca bedah. Biaya bedah mencapai puluhan juta, layanan ini relatif mudah didapatkan bahkan di Yogyakarta baru-baru ini telah dibuka layanan ini. Tentu seperti tindakan medis lainnya, maka pembedahan semacam ini mempunyai resiko tertentu dengan efek samping yang dapat ditelusuri lebih lanjut.
Yang menarik untuk didiskusikan adalah, jika kita amati gejala maraknya permintaan rekonstruksi ini semakin merebak tidak hanya bagi kalangan tertentu sebagai upaya estetika pasca melahirkan melainkan juga bagi remaja, kaum transeksual. Perkembangan ini merupakan salah satu fenomena kontemporer atau populer yang patut disoroti.
Perspektif Budaya
Menarik jika kali ini kita tidak memulainya dengan membahas permasalahan etika yang bisa saja kontroversial, melainkan memulainya dengan membidik gejala budaya dibalik fenomena di atas tadi. Sebagai langkah awal sebaiknya kita mempertimbangkan masukan dari Mangunwijaya dengan telaah pergeseran budaya. Kebudayaan yang dipahami sebagai totalitas aktivitas serta pengentalan seluruh ikhtiar manusia untuk menjawab tantangan hidup, mengolah dan memberi makna, menjamin penyegaran diri secara integral baik dalam karya nyata maupun simbolisasinya. Maka saat ini bangsa Indonesia sedang dan sudah masuk ke dalam tahap penyejarahan diri yang baru, yakni zaman pasca-Indonesia pasca-Einstein. Pergeseran atau evolusi yang dimaksud adalah dari masyarakat pra-agraris – agraris - birokrasi – industri – teknologi informasi – bioteknologi, dan seterusnya. Tegas beliau, patriotisme, nasionalisme dan sebagainya dari tiap generasi sudah menjadi lain atau terjadi “metamorfosis”. Ini bukanlah suatu malapetaka dan jangan selalu dipandang sebagai suatu hal yang negatif, asalkan kita dapat mengolahnya secara realis dan bijak. “Hanya orang tua yang buruk, egois dan bodoh melihat perkembangan serba pasca dalam anak-cucu mereka selaku kejadian yang buruk”.
Dalam mengolah fenomena diatas sebagai produk budaya, kata “budaya” sendiri setidaknya berarti sesuatu bagi umumnya orang. Mendengar kata “Budaya” maka yang bermunculan pada pikiran kita seringkali adalah adat istiadat, busana daerah/suku, lagu-lagu daerah, bahasa suku, simbol-simbol seperti: ukiran, lukisan yang bernuansa ke daerahan, dan semacamnya. Setidaknya ini merupakan tanda bahwa paradigma budaya yang dipahami sudah waktunya untuk diperbaharui pula. Bingkai pemahaman tidak jarang mengandung dikotomi antara budaya elit (elite culture) dan budaya rakyat (folk culture), budaya pusat-budaya pinggiran, budaya tinggi-budaya rendah, budaya atas-budaya bawah, budaya kraton-budaya desa, budaya halus-budaya kasar. Pemahaman ini mengasumsikan relasi kekuasaan antar kelompok dominan dengan kelompok subordinan, yang menurut Strinati bahwa teori budaya massa tersebut terkait dengan status sosial mempunyai kecenderungan memandang secara homogen dan standarisasi. Teori itu kurang memberi tempat pada arti seni dalam budaya. Sementara budaya populer justru menawarkan keanekaragaman dan perbedaan yang tidak terhindar dari konflik dan ketegangan didalamnya.
Dalam paradigma semacam ini, setidaknya vaginoplasty dapat menggambarkan beberapa pola-pola dasar untuk memasuki diskusi budaya: 1) Dimensi seni dalam vaginoplasty dan tindakan serupa tentu tidak dikenal oleh masyarakat umum, jadi wajar bila dunia bedah plastik ini hanya dipandang sebelah mata. Bisa jadi cara pandang yang dikotomis kembali memojokkan teknologi ini hanya sebagai konsumsi kaum elit tertentu: selebritis misalnya. Bukan sebagai pendekatan seni tapi karena faktor finansial atau status sosialnya. 2) Rekonstruksi ini tidak bebas dari kecurigaan penyalahgunaan dan penyimpangan dari budaya “adi luhung” yang telah tersedia dalam masyarakat kita, sementara kehadiran Dorce Show tidak mendapatkan tanggapan tertentu yang cukup berarti. 3) Vaginoplasty cukup merepresentasikan budaya populer yang dengan sentuhan seni maka akan membuahkan karya bedah yang berbeda-beda, mengikuti selera permintaan. Juga menimbulkan pendapat yang berbeda-beda dan bukan tanpa ketegangan . 4) Setidaknya tindakan vaginoplasty tidak semata-mata ditujukan untuk elit tertentu, seperti yang dialami Dita (12 tahun) . Penyebaran melalui media massa juga ikut andil menyuarakan produk budaya ini tanpa memandang status.
Lifestyle Ecstasy?
Inilah judul suatu buku yang merekam berbagai pendapat seputar budaya populer, disatu sisi mempertahankan kepekaan dan kekritisan terhadapnya dan di sisi lain belajar sesuatu hal darinya untuk mengembangkan budaya itu sendiri. Dalam memperhatikan dunia kedokteran yang berkolaborasi dengan seni populer serba plasty tentulah mengandung berbagai ideologi, apakah itu konsumerisme? ataukah kapitalisme? Atau isme-isme lainnya.
Suatu pertanyaan menarik, apakah ini juga merupakan simbol komodifikasi , dimana dalam masyarakat komoditas, kecantikan (kesempurnaan) adalah komoditas yang berharga? Bukankah perawatan kecantikan telah menjadi gaya hidup kekotaan? Tidak dipungkiri bahwa bagi sebagian perempuan, kegandrungan pada icon-icon populer seperti: Inul dengan gerak erotis, Dorce dengan transeksual, Kiki dan banyak lagi artis lainnya dengan kelas kebugaran sebagai produser budaya telah menampilkan gaya hidup sebagai primadona ketimbang moralitas. “Maka manusia hidup dalam alam ecstasy akan gaya, dan gaya hidup pun senantiasa diakutkan lewat ‘kenikmatan semu’,’kebahagiaan ilutif’,’keindahan halusinatif’,’daya tarik pseudorasional’ yang mengendap di bawah permukaan pesan budaya sehari-hari dan membentuk manusia secara diam-diam”
Vaginoplasty jelas berpotensi mewakili tudingan sebagai budaya simbolik; “Ongkos sosial gaya hidup mutakhir”- orang tidak lagi malu atau sungkan menjadi kaya, nilai guna atau nilai pakai dikalahkan oleh faktor citra atau image. Gaya hidup sebagai simbol status sosial, industri bedah dapat memanfaatkan desain dalam langkah pemasarannya dengan cara memancing masyarakat semakin konsumtif dibawah bendera high-tech membutuhkan high cost.
Dunia menjadi serba permisif atau serba instan, ledakan teknologi informasi menambahkan energi dan kegairahan dalam membentuk gaya hidup. Seorang perempuan muda yang terkejut karena mengetahui bahwa kemaluannya tidak sama dengan apa yang ditampilkan oleh media yang begitu mudah didapatkan, lalu segera melaksanakan operasi bedah plastik dan merasa bahwa sekarang ia telah memiliki vagina yang “sempurna”. Inikah yang dimaksud oleh para pemerhati budaya dengan realitas semu? Ketika ke”sempurna”an yaitu seperti apa yang disajikan oleh media, cantik identik dengan langsing, tinggi semampai, berkulit putih halus, berambut panjang, hidung mancung, dan sebagainya.
Ataukah, teknologi kedokteran ini justru melanggengkan pancaran tradisi patriarkal pada masyarakat Indonesia? Dengan dalih agar suami tidak selingkuh atau poligami? Gambaran perempuan yang tradisional, pekerjaan perempuan yang terbatas pada stereotip-stereotip tertentu atau sebagai obyek seks. Hal demikianlah yang diamati oleh Tuchman bahwa dalam proses budaya bisa saja terjadi “Anihilasi Simbolis Perempuan” (peniadaan simbolis perempuan).
Jika harus menjawab ideologi apakah dibalik vaginoplasty, maka saya memilih jawaban dari Gamman dan Marshment:
“Budaya populer adalah sebuah tempat pertarungan, dimana banyak maknanya (pertarungan kekuasaan atas makna yang terbentuk dan beredar di masyarakat) ditentukan dan diperdebatkan. Tidak cukup kiranya menghapuskan budaya populer sebagai hanya berfungsi sebagai sistem pelengkap kapitalisme dan patriarki, menjajakan “kesadaran palsu” kepada massa yang tertipu. Budaya populer dapat juga dipandang sebagai sebuah tempat di mana makna diperselisihkan dan ideologi-ideologi dominan diganggu. Antara pasar dan ideology, pemberi modal dan produser, sutradara dan aktor, penerbit dan penulis, kaum kapitalis dan pekerja, laki-laki dan perempuan, heteroseksual dan homoseksual, kulit hitam dan putih, tua dan muda – antara makna berbagai hal, dan bagaimana hal-hal itu bermakna, merupakan pertarungan terus-menerus yang perlu dikendalikan” .
Kacamata Ke-Kristenan Menerawang Budaya Populer
Dua hal terpenting yang perlu mendapatkan apresiasi adalah yang pertama: Apakah budaya populer telah memberi sumbangan yang cukup berarti bagi ke-Kristenan? Dan kedua adalah sebaliknya: Apakah ke-Kristenan sudah menawarkan sesuatu yang layak bagi budaya populer? Disadari atau tidak, ke-Kristenan sebagaimana agama lainnya tidaklah imun terhadap budaya populer, namun keadaan ini toh tidak membuat sikap ke-Kristenan menjadi seragam. Justru sebaliknya, terjadi berbagai sikap yang beranekaragam.
Niebuhr telah berupaya membuat tipologi mengenai sikap terhadap budaya yakni: oposisi atau melawan, akomodatif (agreement) karena Kristus dapat dipahami melalui kebudayaan dan sebaliknya kebudayaan dapat ditafsirkan melalui Kristus, sintetik (Christ above Culture), dualistis / paradoks dan Kristus mentransformasi budaya (conversionist). Tanpa menyederhanakan sikap yang begitu kompleks, tipologi ini cukup membantu kita dalam mengamati geliat gereja berikut teologinya dan gejolak budaya populer baik yang secara tegas ditolak ataupun diakomodir. Lalu apa tanggapan gereja jika ada jemaatnya yang ingin melaksanakan vaginoplasty dengan alasan kosmetik dan kelanggengan hubungan suami-istri? Setidaknya beberapa teolog seperti: Fore, Mangunwijaya, Rookmaaker, Myers, Romanowski, secara tidak langsung akan menawarkan beberapa sikap.
Pertama-tama adalah semangat Injil yang diteladankan oleh Kristus, yaitu sikap kritis seperti yang disampaikan oleh Mangunwijaya. Kepekaan (kesadaran) atau sensibility seperti yang disampaikan Myers yakni bagaimana kita dapat menikmati budaya populer dengan cara yang konsisten dengan sudut pandang (world view) ke-Kristenan? Cara menjawab yang ditawarkan bukan dengan membuat katalog tingkah laku yang menyatakan boleh atau tidak boleh, melainkan memulainya dengan memahami budaya populer dan “You can enjoy popular culture without compromising Biblical principles as long as your are not dominated by the sensibility of popular culture, as long as you are not captivated by its idols”
Perlu kekritisan dalam membangun relasi dengan budaya populer karena dalam prosesnya, teknologi dan seni yang dipadukan bukanlah sesuatu yang netral . Teknologi merupakan kristalisasi, simbol ungkapan, wahana reproduksi suatu sistem pemikiran penghayatan yang berideologi. Dan termasuk didalamnya yakni spirit, perasaan, kepekaan akan estetika, imajinasi dan subyektifitas. Menurut saya budaya kritis inilah yang belum benar-benar membumi di Indonesia, sehingga tidak terlalu menuntut jika ke-Kristenan yang mulai kritis pada budaya sekitarnya dan kepada dirinya sendiri sudah merupakan awal yang baik untuk membentuk iklim yang sehat.
Tekanan lain dari Myers , bahwa “budaya kita boleh saja tidak kudus tetapi bukan berarti tidak manusiawi. Pandangan ini yang harus dibawa ketika berhadapan dengan seluruh aspek yang ada dalam budaya. Khususnya dengan budaya Populer” setidaknya dibubuhi kata “lebih” oleh Yefta (seperti diatas), apakah dengan perbaikan vagina itu maka akan selalu menjadi “lebih manusiawi”? kita tetap perlu mempertanyakan, manusiawi seperti apa? Apakah prokreasi atau kontra-kreasi? Kalau memang pro-kreasi, mengapa sesudah mempunyai anak? Apakah setelah vaginoplasty seseorang dapat melahirkan normal ataukah harus caesar? Tentu tujuan lebih kepada kepuasan seksual baik bagi pasangannya juga bagaimana mengembalikan rasa percaya diri bagi diri sendiri lebih dapat dipahami. Apakah ini salah?
Dengan berjalan mulusnya suatu tindakan vaginoplasty sebagai karya seni, bukan tidak mungkin seseorang menhayati campur tangan Tuhan. Myers sangat mengkritisi pola pendekatan terhadap budaya populer yang hanya mengutamakan analisis teradap unsur-unsur sosiologis dan politik. Yang seharusnya terjadi dalam setiap analisis terhadap budaya populer adalah menyangkut juga masalah-masalah estetikanya, karena justru unsur inilah yang sangat dekat dengan pengalaman-pengalaman spiritual. Sementara Romanowski setelah meniadakan perbedaan antara budaya tinggi dan populer lalu mengingatkan bahwa sebaiknya kita menyadari tipisnya pemisah antara pengalaman spiritual dan estetika, ketenangan dan kenyamanan yang diberikan oleh seni belum tentu berhasil menyentuh kenyataan (relasi yang sesungguhnya, misal: menerima apa adanya). Seni populer bukan realitas tetapi visi artistik tentang realitas. Perlu saya tambahkan bahwa teknologi bukan realitas pula tetapi visi produktifitas dalam realitas.
Baik secara eksplisit dan implisit, Rookmaaker, Fore, Myers bernada negatif terhadap budaya populer walaupun sikap mereka inklusif. Fore mengatakan bahwa budaya populer terbatas hanya menjadi persiapan Injil, bukan perantara Injil. Fore mengusulkan untuk mengadopsi budaya populer dengan kepekaan teologis, “being clean in unclean world” istilah yang dipakai oleh Rookmaaker. Secara kasar tidak berlebihan jika ketiga tokoh ini bertendensi untuk meng”Kristen”kan budaya populer.
Romanowski dengan nada positif, dalam meniadakan pembedaan terhadap budaya tinggi dan budaya populer, mengkoreksi pemahaman orang-orang Kristen bahwa budaya tinggi berasal dari Tuhan sementara budaya populer dari setan (musik klasik dari Roh Kudus – musik populer dari neraka). Karena sesungguhnya high art tidak sungguh ada, dan seperti pendapat Strinati diatas bahwa jasa dari popular arts (seni populer) – lah yang memunculkan perbedaan (tidak perlu kuatir terhadap efek homogenisasi). Memang didalamnya tercampur aduk antara yang baik dan yang tidak, namun tegasnya bahwa budaya populer tidak perlu dipaksa membawa pesan iman secara eksplisit. Budaya populer tidak punya tugas untuk membina iman dan moralitas konsumennya.
Masukan dari Budaya Populer
Semangat untuk menciptakan mode, berdaya kreasi, senantiasa memberikan sentuhan estetika, yang ada pada budaya populer sesungguhnya telah lama ditinggalkan oleh gereja, gereja justru mulai sibuk dengan budaya legalistik, serba aturan dan birokrasi. Yang dulunya gereja adalah memproduksi seni sekarang menyempit hanya menjadi penikmat seni. Jadi ketika dunia kedokteran makin bersekutu dengan seni, maka gereja cenderung suam-suam kukuh, tidak berani berkomentar atau bahkan menuding itu sebagai praktik penyimpangan susila. Karena gereja sudah terlanjut menanamkan tradisi, bahwa masalah seksual, selingkuh atau hamil diluar nikah mendapatkan rating tertinggi dalam kategori “dosa” yang harus di”gembalakan khusus” . Sehingga bersikap positif terhadap praktik kedokteran yang menyangkut alat kelamin bisa jadi adalah suatu hal yang dihindari mengingat terlalu sensitif atau “tabu” untuk ditanggapi. Kreatifitas gereja terbelenggu oleh tradisi-tradisi yang pernah dipopulerkan oleh elit agama “tempo doeloe”, lupa bahwa budaya merupakan hal yang dinamis dan senantiasa bergeser.
Sudah bukan waktunya lagi untuk memperdebatkan spiritual konsumtif dalam budaya populer, karena konsumeristis serentak ada bersama dengan produktifitas. Seperti jiwa dari khotbah di bukit “diberkatilah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, …” (Matius 5:6) karena karya Allah tidak dapat kita batasi mediumnya. Spiritual konsumtif akan terpelihara dengan suburnya produktifitas. Ke-Kristenan ditantang untuk produktif menawarkan teologinya dan melihat kenyataan tanpa harus cepat-cepat menilai agar tidak kehilangan kesempatan untuk dibukakkan akan realitas hidup, namun bertindak cepat tanggap. Vaginoplasty sebagai karya populer adalah ”Teks”: sikap-sikap, tindakan-tindakan, karya-karya material yang memberi makna kepada budaya, karena ini menggambarkan apa yang orang percayai dan hargai.
Ada kalanya tanpa kita sadari seni atau teknologi populer mempunyai “efek sensor” terhadap materi narasi teks yang sarat akan kekerasan dan sadisme secara demografik maupun dalam pemasarannya. Seni bertugas untuk menyampaikan sesuatu secara indah, kehalusan dan ketenangan seni tidak selalu diikuti dengan isi yang halus pula.
Budaya populer berusaha sejalan dengan paradigma pasar untuk meniadakan/membutakan diri dari politik (negara). Pasar bukanlah pemerintah, kelompok elit tertentu baik itu elit budaya, elit sosial, elit agama dsb, bukan pula oleh rakyat kebanyakan dan bukan pemilik modal atau produsen. Pasar adalah konsumen yang berarti bisa siapa saja, agar produknya diproduksi sebagai sebuah komoditi maka diupayakan dalam suatu unit produksi yang dinamis, inter-subyektif dan professional. Tentu dikomoditaskan oleh pasar karena pasar tidak mempunyai kepentingan keadilan.
Kritik terhadap Vaginoplasty
Selain kritik budaya yang diatas, tentulah kekritisan yang diharapkan terkait dengan pemahaman iman, gambar Allah seperti apakah yang digumulkan seseorang ketika berhadapan dengan maraknya kebutuhan rekonstruksi vagina di Indonesia? Pertama-tama yang saya usulkan adalah mempertahankan “kecurigaan ” terhadap muatan-muatan nilai dibalik keinginan tersebut. Selain memperhatikan konsumen tentu sebaiknya kita mempunyai sikap yang serupa terhadap produsen. Apakah perbaikan materiil yang dilakukan sebagai sikap pragmatis yang mengabaikan esensi utama hubungan antar suami-istri sebagai cermin hubungan manusia dengan Tuhannya? Semangat estetika tidak perlu mengaburkan makna cinta diantara suami-istri, justru berfungsi sebagai “sekuntum mawar merah” yang menandai pernyataan cinta itu. “Kecurigaan” dipertahankan agar sewaktu-waktu dapat bersikap tegas terhadap nilai-nilai yang tidak sehat.
Ataukah sebagai langkah pro-kreasi agar seseorang mengembalikan fungsi biologisnya. Seperti yang dilakukan Yesus ketika Petrus memutus telinga hamba Imam Besar, atau berbagai karya penyembuhan fisik. Permasalahan utama, jika kita ikuti alur narasi Markus adalah orang-orang heran dan terpukau dengan berbagai penyembuhan fisik dan belum berhasil menangkap makna pengajaran atau Injil yang tengah diberitakan. Bukan berarti Yesus menolak melakukan penyembuhan fisik, Dia memang peduli sampai pada hal yang kita anggap kecil sekalipun “Talita kum”(Markus 5) tidak mengabaikan untuk mengingatkan orang-orang disitu untuk memberi anak itu makan. Injil bagi kebudayaan adalah bahasa kritikal yang senantiasa menyisakan pertanyaan (bagaikan perumpamaan) terbuka, bukan kesimpulan-kesimpulan yang determinitif (serba pasti). Injil tidak bertugas membuatkan keputusan bagi kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada hidup kita.
Dialog Teks Konteks
Teologi kontekstual berusaha mempertemukan dialog yang dinamis antara teks dengan konteks. “Teks” tidak hanya disediakan oleh teks alkitab, melainkan karya-karya seni dan teknologi dimungkinkan untuk menjadi medium penyampaian firman tanpa harus ada upaya eksplisit bersengaja. Tentu jika “teks” itu terbuka untuk berdialog dengan teks serta konteks maka dinamika yang hidup akan berpeluang mengisi budaya.
Berbicara mengenai teks dan konteks maka ada baiknya jika kita bertanya, siapakah produsen “rekonstruksi vagina” jika berdialog dengan Markus? Apakah mereka yang pertama-tama mempopulerkan bahwa dengan menjamah jubah seseorang yang di”kultus”kan pada masa itu, maka akan membawa kesembuhan adalah produsennya? ataukah orang-orang ramai yang pada saat itu setiap kali diberitahu untuk tidak menyebarluaskan apa saja (mujisat) yang dilakukan Yesus namun tetap menyebarkan berita – “Makin dilarang makin luas (7:36)”? Kesembuhan yang begitu memikat khalayak ramai menjadi berita populer diberbagai daerah seputar Galilea, dan merupakan hal baru “yang begini belum pernah kita lihat” (2:12). Teknologi informasi tercanggih saat itu telah berhasil mempercepat berita sehingga dari selatan (Yudea, Yerusalem), dari barat-timur, dari utara (Sidon, Tirus, 3:7-8) orang banyak berdatangan dan berdesak-desakkan demi kesembuhan.
Dan ketika Yesus diperhadapkan langsung pada roh-roh jahat, aksi damai-Nya nampak jelas karena Yesus tidak membinasakan atau membunuh roh-roh itu. Yesus mengusirnya, bahwa tubuh manusia bukanlah tempat yang tepat bagi mereka. Sesungguhnya Yesus berkali-kali (4:11, 20, 23; 8:18; 9:7) mengajak mereka peka dan kritis mendengar perkataanNya dan “mendengarkan” sekitarnya, Markus membidik dengan kesembuhan orang tuli, (7:31-37) dan mengajak untuk melihat kenyataan hidup yang ada disekitarnya ( dengan kesembuhan orang buta, 10:46-52).
Yesus juga mengkaburkan pembedaan antara budaya Taurat (2:27-3:6), adat istiadat (folk culture, 7:1-23) dengan budaya populer yang didiskriminasi oleh elit masyarakatnya. Orang kusta yang dimarjinalkan, perempuan pendarahan karena haid sebagai ‘cerita ditengah cerita’ (5:21-43). Markus menunjukkan kontras antara orang-orang dalam “gereja” yakni keluarga dan kerabat Yairus dengan seorang perempuan yang tersisih dari pusat keimanannya (bait Tuhan) akibat budaya Taurat yang tidak manusiawi pada praktiknya (imamat 15:25).
Budaya menjamah jubah oleh Markus dimunculkan tanpa memberi reaksi tertentu terhadapnya, demikian pula Yesus tidak berkomentar tentang itu. Kesembuhan/perbaikan tetap diberikan kepada perempuan itu. Dan ketika Yesus berinteraksi dengan perempuan Siro-Fenisia (7:24-30), yang tadinya berparadigma tertutup, kemudian Yesus juga merubah/memperbaiki cara pandangNya sendiri.
Siapakah orang yang sesungguhnya membutuhkan rekonstruksi vagina? Orang-orang kusta, perempuan yang pendarahan, atau perempuan Siro-Fenisia? Atau bukan siapa-siapa karena tidak ada permasalahan sosial pada rekonstruksi ini. Benarkah demikian? Saya menduga akan ada suatu muatan pemikiran atau latar belakang tertentu yang berkaitan dengan berbagai kemungkinan, jika seseorang akan melakukan rekonstruksi ini. Bisa jadi ini merupakan langkah protes dengan gaya estetika dari kaum Hawa terhadap hegemoni kaum Adam. Bisa juga sebagai terobosan untuk meraih pengakuan tertentu dari masyarakatnya. Dan budaya populer-lah yang dipilihnya untuk menunjukkan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka hargai. Yesus menawarkan budaya Injil yang cermat menyentuh hal-hal yang esensial, dan budaya inilah yang berhasil ditularkan kepada murid-muridNya.
Penutup
Biarlah teologi dan budaya populer kita tempatkan pada arena yang terbuka, yang bebas mengolah ekspresi dan kreatifitas-nya sehingga mereka bisa saling mengkoreksi, saling belajar dalam ketegangan kreatif yang terus menerus . Sehingga yang patut kita metafora-kan dari vaginoplasty yakni “teological-plasty” dengan perbaikan teologi yang terus menerus pula. Dimensi budaya seringkali kurang mendapatkan tempat ketika krisis menghampiri pilar-pilar favorit masyarakat seperti ekonomi dan politik, dengan Eyes Wide Open – Looking for God in Popular Culture maka membantu kita menelaah budaya dibalik pilar-pilar itu. Sangat mungkin krisis muncul dari dalam budaya, sehingga penting pula melakukan “cultural-plasty”
Jemaat (gereja) adalah teolog-teolog “praktika” dan “operasional” sekaligus agen budaya yang terkadang bingung berhadapan dengan hal-hal nyata yang dilematis dan problematik. Justru inilah celah atau peluang bagi agen-agen teologi yang sedikit mendapatkan percepatan melalui proses pendidikan yang memadai (berkompetensi) untuk berdialog, menularkan dan ditulari kekritisan/kepekaan dalam merangkai kenyataan dan iman, sehingga melalui keterbukaan maka budaya dan teologi mengalami perubahan demi perubahan yang bermakna.