Dislipidemia dan Risiko Stroke
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS
Pengantar
Stroke adalah penyakit neurologi yang utama. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak. Otak mengalami gangguan pasokan darah, oksigen, dan nutrisi, sehingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel-sel otak. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan stroke, namun merupakan penyebab kecacatan yang utama. Stroke memberikan beban fisik, psikologis, dan ekonomis bagi penyandang dan keluarganya.
Stroke dapat menyerang semua usia, namun lebih sering dijumpai pada populasi tua. Stroke terjadi karena seseorang yang sehat memiliki faktor risiko stroke. Faktor risiko stroke ada yang dapat dimodifikasi, tapi ada pula yang tidak dapat dimodifikasi. Usia tua, jenis kelamin laki-laki, ras, dan riwayat keluarga stroke merupakan faktor risiko stroke yang tidak dapat dikendalikan. Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi adalah hipertensi, diabetes, dislipidemia, merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, gangguan tidur dsb. Pemahaman akan faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan akan sangat membantu upaya pencegahan stroke. Salah satu faktor risiko stroke yang banyak mengemuka akhir-akhir ini adalah dislipidemia. Dislipidemia secara sederhana dapat diartikan sebagai profil lemak yang abnormal. Pertanyaan kritis yang muncul adalah ”bagaimana hubungan antara stroke dan dislipidemia?”
Mengenal dislipidemia
Profil lemak seseorang ditentukan oleh kadar kolesterol darah, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliserida, dan Lp(a). Kolesterol dibentuk di dalam tubuh, yang terdiri dari 2 bagian utama yaitu kolesterol LDL dan kolesterol HDL . Kolesterol LDL disebut sebagai ”kolesterol jahat”, yang membawa kolesterol dari hati ke dalam sel. Jumlah kolesterol LDL yang tinggi akan menyebabkan penimbunan kolesterol di dalam sel. Hal ini akan memacu munculnya proses atherosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah arteri). Proses atherosklerosis akan menimbulkan komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut pada otak akan meningkatkan risiko terkena stroke.
Kolesterol HDL sering pula disebut sebagai ”kolesterol baik”, yang membawa kolesterol dari sel ke hati. Trigliserida di dalam tubuh dibawa di aliran darah oleh lipoprotein VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Kadar HDL yang rendah secara konsisten dihubungakn dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Kadar HDL yang rendah memacu munculnya proses atherogenik (pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri).
Profil lemak pada umumnya diperiksa setelah subyek berpuasa 6-8 jam. Profil lemak yang normal adalah sebagai berikut: (1) kadar kolesterol darah dibawah 200 mg/ dl, (2) kadar kolesterol LDL dibawah 150 mg/dl, (3) kadar kolesterol HDL diatas 35 mg/dl, dan kadar trigliserida dibawah 200 mg/dl. Hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah rasio kolesterol LDL dan kolesterol HDL yang kurang dari 3,5. Kadar kolesterol HDL yang rendah seringkali dijumpai bersamaan dengan kadar trigliserida yang tinggi. Penelitian menunjuukaan bahwa kadar trigliserida yang tinggi akan meningkatkan risiko penyakit jantung kornoer sebesar 30%.
Faktor genetik, konsumsi makanan, dan pola hidup ikut berperan dalam terjadinya dislipidemia. Kurang lebih kemungkinan 1/500 orang memiliki kecenderungan untuk mempunyai kadar trigliserida darah yang tinggi. Pola pewarisan ini ada pada kekerabatan tingkat pertama (anak, saudara kandung, dan orang tua). Konsumsi makanan tinggi lemak juga meningkatkan kadar LDL dan trigliserida darah. Peningkatan dapat pula dipacu oleh merokok atau konsumsi obat-obatan tertentu (misalnya: pil komtrasepsi dan obat steroid). Diabetes juga meningkatkan kadar trigliserida darah. Obesitas dan kurang aktivitas fisik juga secara konsisten dihubungkan dengan kemungkinan dislipidemia.
Kadar kolesterol darah yang tinggi tidak memberikan gejla yang spesifik. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol darah yang tinggi juga dijuluki sebagai “the silent killer”. Pasien datang berobat ketika telah muncul komplikasi pembuluh darah. Proses atherosclerosis tetap berjalan tanpa ada keluhan pasien.
Hubungan antara dislipidemia dan stroke
Kolesterol LDL yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah, dan rasio kolesterol LDL dan HDL yang tinggi dihubungkan dengan peningkatan risiko terkena stroke. Hal ini akan diperkuat bila ada faktor risiko stroke yang lain (misalnya: hipertensi, merokok, obesitas).
Berbagai penelitian epidemiologi secara konsisten menghubungkan peningkatan risiko stroke pada penyandang dislipidemia. Peningkatan 1 mmol/ L (38,7 mg/dL) kadar kolesterol darah total akan meningkatkan risiko stroke sebesar 25%. Di lain sisi peningkatan 1 mmol/ L kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) akan menurunkan risiko stroke sebesar 47%.
Upaya mencegah stroke
Pengendalian faktor risiko merupakan langkah utama untuk mencegah stroke. Penanganan dislipidemia adalah meliputi pola hidup sehat, penghentian rokok, berolahraga, dan konsumsi sayuran dan buah. Bila profil lemak sudah abnormal, mungkin akan diperlukan intervensi obat. Pada kasus ini golongan obat yang disebut statin dapat dicoba. Silahkan berkonsultasi dengan dokter anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Rizaldy Pinzon
Tim Stroke RS Bethesda Yogyakarta
Tags: Kesehatan








